Ringkasan Eksekutif

Perkembangan Ekonomi Makro Daerah

Penyebaran pandemi COVID-19 telah membuat pemerintah di seluruh dunia mengelu arkan kebijakan untuk membatasi aktivitas di luar rumah warga negaranya. Kebijakan tersebut berdampak kuat pada keseimbangan internal maupun keseimbangan eksternal seluruh negara. Selanjutnya berdampak pada perekonomian nasional dan Jawa Tengah sehingga menyebabkan perekonomian Jawa Tengah tidak tumbuh sesuai kapasitasnya. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah pada triwulan I 2020 tercatat sebesar 2,60% (yoy). Capaian tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya (5,34%; yoy). Kinerja perekonomian Jawa Tengah tersebut berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional dan Kawasan Jawa yang tercatat masing-masing sebesar 2,97% (yoy) dan 3,42% (yoy).

Ditinjau dari sisi pengeluaran, perlambatan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I 2020 berasal dari komponen konsumsi rumah tangga dan investasi. Sementara konsumsi pemerintah dan ekspor luar negeri mengalami akselerasi dari triwulan sebelumnya. Impor luar negeri Jawa Tengah masih tercatat tumbuh negatif, meskipun dengan tingkat pertumbuhan yang lebih rendah dibanding tiga triwulan sebelumnya.

Dari sisi lapangan usaha, perlambatan pertumbuhan terjadi pada seluruh sektor utama yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan, dan konstruksi. Lebih lanjut, lapangan usaha lainnya juga terdampak penyebaran wabah COVID-19 antara lain transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta jasa perusahaan. Namun demikian, beberapa lapangan usaha mengalami peningkatan pertumbuhan seperti pertambangan dan penggalian, informasi dan komunikasi, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial.

Keuangan Pemerintah

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan di tahun 2020. Anggaran pendapatan pemprov Jawa tengah meningkat sebesar 7,44% dibandingkan tahun 2019. Sementara anggaran belanja mengalami peningkatan sebesar 4,90% dibandingkan tahun 2019.

Realisasi pendapatan daerah pada triwulan laporan tercatat sebesar 15,21%, lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang mencapai 19,23%. Menurunya realisasi pendapatan daerah bersumber dari menurunnya realisasi anggaran perimbangan dikarenakan adanya kebiijakan rasionalisasi dan refocusing anggaran dari kementerian keuangan.

Perkembangan Inflasi Daerah

Inflasi Provinsi Jawa Tengah pada triwulan I 2020 tercatat sebesar 3,25% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,93% (yoy). Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor utama pendorong laju inflasi tahunan Jawa Tengah pada triwulan I 2020. Peningkatan laju inflasi tahunan utamanya juga dicatatkan oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya serta Kelompok penyediaan makan dan minum. Sementara kelompok lainnya pendidikan, kelompok transportasi, dan kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rumah tangga lainnya mengalami perlambatan laju inflasi. Perlambatan laju Inflasi paling tinggi bersumber dari kelompok pendidikan yang pada triwulan laporan mengalami deflasi.

Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan, dan UMKM

Stabilitas sistem keuangan di Jawa Tengah masih relatif terjaga, walaupun kinerja intermediasi perbankan di Jawa Tengah mengalami penurunan sejalan dengan kinerja perekonomian yang tumbuh melambat. Ditinjau dari sisi lapangan usaha, perlambatan pertumbuhan bersumber dari pelemahan kinerja lapangan usaha perdagangan besar & eceran. Namun demikian, kinerja penyaluran kredit lapangan usaha utama lainnya yaitu lapangan usaha industri pengolahan serta pertanian, kehutanan, dan perikanan tercatat mengalami perbaikan ditopang oleh peningkatan penyerapan kredit modal kerja.

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah

Perkembangan indikator sistem pembayaran di Jawa Tengah pada triwulan I 2020 sejalan dengan kinerja Jawa Tengah yang mengalami pelemahan. Nilai transaksi melalui SKNBI menunjukkan kontraksi secara triwulanan, namun meningkat secara tahunan. Pertumbuhan triwulanan mengalami kontraksi 7,63% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya, sementara pertumbuhan tahunan mengalami peningkatan sebesar 14,39% (yoy).

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Kondisi ketenagakerjaan di Jawa Tengah pada triwulan I 2020 masih cukup baik meski wabah COVID-19 mulai masuk Jawa Tengah pada Maret 2020. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia, kondisi ketenagakerjaan di Jawa Tengah pada triwulan I 2020 mengalami peningkatan, yang ditunjukkan indeks ketersediaan lapangan kerja meningkat dari 116,62 menjadi 116,83.

Dengan penyebaran COVID-19 yang semakin masif di Indonesia pada April 2020, kondisi ketenagakerjaan mengalami penurunan. Hasil diskusi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah mencatat bahwa sejumlah perusahaan terkena dampak COVID-19 sejak April 2020. Sebagian besar korporasi berupaya untuk tidak melakukan PHK dengan merumahkan sebagian pegawainya. Terdapat pula kebijakan perusahaan yang melakukan pengurangan upah demi menghindari PHK. Melihat kondisi korporasi pada April 2020, Bank Indonesia melakukan simulasi yang menunjukkan potensi penambahan tingkat pengangguran di tahun 2020 paling tidak sebesar 0,35% terhadap angkatan kerja di Jawa Tengah.

Namun demikian, kondisi tersebut diharapkan pulih pasca wabah COVID-19 mereda baik di tingkat global maupun nasional. Pada Mei 2020, konsumen memperkirakan bahwa dalam 6 bulan mendatang atau perkiraan COVID-19 mereda baik kegiatan usaha, ketersediaan lapangan pekerjaan, maupun penghasilan akan membaik. Indeks perkiraan ketersediaan lapangan kerja dan penghasilan telah berada pada level optimis dengan masing-masing sebesar 110,4 dan 123,5. Tingkat optimisme yang meningkat ini tidak terlepas dari pelonggaran kebijakan pembatasan sosial yang terjadi di negara terdampak termasuk Indonesia.

Prospek Perekonomian Daerah

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah triwulan III 2020 diperkirakan mulai membaik dibanding triwulan II 2020. Ditinjau dari sisi pengeluaran, akselerasi pertumbuhan pada triwulan III 2019 terutama didorong oleh meningkatnya kinerja investasi dan ekspor antar daerah. Penyebaran COVID-19 diperkirakan mereda sehingga pembatasan sosial lebih longgar pada triwulan III 2020. Sementara pada sisi lapangan usaha, peningkatan diperkirakan terjadi pada lapangan usaha industri pengolahan dan perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor.

Secara keseluruhan, perekonomian Provinsi Jawa Tengah pada 2020 diperkirakan akan bergerak di bawah kapasitasnya sehingga lebih rendah dibandingkan 2019. Penyebaran COVID-19 yang meluas di domestik maupun global berdampak besar terhadap ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2020 yang diperkirakan tumbuh pada rentang 1,4%-2,4% (yoy). Perkiraan tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun 2019 yang sebesar 5,41% (yoy). Pelemahan pertumbuhan ekonomi terutama didorong penurunan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor luar negeri. Dari sisi lapangan usaha, perlambatan ekonomi diperkirakan terjadi pada lapangan usaha utama yaitu industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan.

Inflasi tahunan Jawa Tengah pada triwulan III 2020 diperkirakan mengalami peningkatan. Faktor utama yang diperkirakan mendorong peningkatan laju inflasi berasal dari kelompok makanan; kelompok air, listrik, gas, dan bahan bakar lainnya; serta kelompok transportasi. Koordinasi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi perlu terus diperkuat terutama dalam menghadapi sejumlah risiko terkait gangguan pasokan dan distribusi domestik. Diseminasi dan sosialisasi penggunaan Sislogda Sistem Informasi Logistik Daerah (Sislogda) untuk sinergi informasi pasokan pangan hulu-hilir, kebijakan pasar murah, operasi pasar, dan sidak lapangan di tingkat masyarakat ketika terjadi gejolak harga. TPID Jawa Tengah juga berupaya meningkatkan kelembagaan petani dengan penyusunan skema Rice Market Center serta untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi petani.