Perkembangan Ekonomi Makro Daerah

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mulai menunjukkan perbaikan pada triwulan III 2020, meski pandemi COVID-19 belum berakhir. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 November 2020, perekonomian Jawa Tengah pada triwulan III 2020 tumbuh -3,93% (yoy), lebih baik dari pencapaian triwulan II 2020 sebesar -5,92% (yoy). Perbaikan tersebut juga ditunjukkan dari pertumbuhan triwulanan yang tumbuh positif 4,66% (qtq) atau berbalik arah dari -5,16% (qtq) pada triwulan sebelumnya. Pelonggaran pembatasan sosial yang disertai protokol kesehatan yang ketat menjadi salah satu pendorong utama membaiknya perekonomian Jawa Tengah.

Pada sisi pengeluaran, peningkatan aktivitas perekonomian terjadi pada seluruh komponennya. Google Mobility Index menunjukkan pergerakan masyarakat pada pusat perbelanjaan bahan makanan (groceries, food warehouses, and farmers markets) dan toko obat- obatan (drug stores) relatif sudah kembali normal pada triwulan III 2020. Peningkatan aktivitas tersebut menjadi indikasi perbaikan konsumsi rumah tangga yang tumbuh -0,62% (yoy) pada triwulan III 2020. Indeks Penjualan Riil (IPR) di Jawa Tengah juga menunjukkan perbaikan dari -24,56% (yoy) pada triwulan II 2020 menjadi -7,97% (yoy). Namun demikian, secara nilai transaksi yang dilakukan masih belum normal didorong oleh masih terbatasnya penghasilan. Hasil Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia mengindikasikan masih terbatasnya penghasilan masyarakat yang ditunjukkan oleh Indeks Penghasilan Saat Ini yang berada pada level pesimis dengan indeks sebesar 59,59 atau lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya 72,01.

Perbaikan pertumbuhan terjadi hampir di sebagian besar lapangan usaha Jawa Tengah antara lain Pertanian, Perdagangan, dan Konstruksi. Pertumbuhan lapangan usaha pertanian meningkat cukup pesat yaitu sebesar 6,39% (yoy). Peningkatan sektor primer tersebut disebabkan panen raya pada komoditas padi disertai peningkatan permintaan pada buah-buahan dan sayur-sayuran. Sektor perdagangan juga tercatat membaik seiring meningkatnya aktivitas masyarakat pada beberapa tempat seperti tempat rekreasi, restoran, dan pusat perbelanjaan. Pembangunan infrastruktur di Jawa Tengah pun mulai bergerak meski masih sangat terbatas akibat pandemi COVID-19. Pertumbuhan sektor konstruksi sedikit membaik dari - 5,85% (yoy) pada triwulan II 2020 menjadi -5,62% (yoy) pada triwulan III 2020. Di sisi lain, lapangan usaha industri pengolahan masih belum mengalami perbaikan terutama disebabkan oleh menurunnya kinerja sektor migas.

Keuangan Pemerintah

Pada Triwulan III tahun 2020 anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Provinsi Jawa Tengah mengalami perubahan. Adanya perubahan tersebut merupakan upaya rasionalisasi dan refocusing penggunaan anggaran untuk penanggulangan pandemi COVID-19. Anggaran pendapatan pemerintah provinsi Jawa tengah menurun sebesar 8,21% dibandingkan anggaran sebelum perubahan. Sementara anggaran belanja juga menurun sebesar 7,98 % dibandingkan anggaran sebelum perubahan. Namun demikian, penurunan anggaran belanja sejatinya adalah refocusing penggunaan anggaran kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya kepada penanggulangan COVID-19 yang nantinya akan tercermin pada anggaran belanja tidak terduga pada APBD.

Realisasi pendapatan daerah pada triwulan laporan tercatat sebesar 69,36%, lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang mencapai 74,42%. Menurunnya realisasi pendapatan daerah bersumber dari menurunnya realisasi anggaran perimbangan, khususnya dana bagi hasil pajak/bukan pajak.

Realisasi belanja mengalami peningkatan dibanding tahun lalu sebesar 64,10%. Hal ini lebih tinggi dari periode yang sama pada tahun lalu yang mencapai 52,38%. Seluruh komponen belanja langsung menunjukkan peningkatan realisasi. Peningkatan realisasi terbesar terjadi pada belanja modal sebesar sebesar 60,10%.

Perkembangan Inflasi Daerah

Inflasi tahunan Provinsi Jawa Tengah pada triwulan III 2020 melanjutkan tren penurunan yang telah berlangsung sejak triwulan I 2020. Inflasi Provinsi Jawa Tengah pada triwulan III 2020 tercatat sebesar 1,46% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,48% (yoy). Rendahnya inflasi Jawa Tengah sejalan dengan tren penurunan tekanan inflasi di tingkat nasional maupun kawasan Jawa yang masing-masing sebesar 1,42% (yoy) dan 1,66% (yoy) pada triwulan III 2020. Penurunan inflasi tersebut disebabkan terbatasnya permintaan dan konsumsi masyarakat sehingga mampu menjaga inflasi relatif stabil.

Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan, dan UMKM

Stabilitas sistem keuangan Jawa Tengah pada triwulan III 2020 relatif membaik dibandingkan paruh pertama tahun 2020. Walaupun demikian, beberapa indikator utama intermediasi keuangan masih mengalami penurunan kinerja. Penyaluran kredit perbankan masih menopang kinerja sektor utama perekonomian Jateng, dengan mencatatkan akselerasi penyaluran kredit pada Lapangan Usaha (LU) industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta konstruksi masih terus bertumbuh walaupun secara keseluruhan melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Kualitas kredit perbankan terhadap lapangan usaha utama di Jawa Tengah juga relatif terjaga, walaupun masih batas yang perlu diwaspadai.

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang  Rupiah

Perkembangan indikator sistem pembayaran di Jawa Tengah pada triwulan III 2020 menunjukkan peningkatan kinerja perekonomian daerah secara triwulanan. Nilai transaksi melalui SKNBI menunjukkan peningkatan baik secara triwulanan maupun tahunan. Pertumbuhan triwulanan mengalami kenaikan 12,27% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya, sementara pertumbuhan tahunan juga sejalan mengalami peningkatan sebesar 4,98% (yoy).

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan

Ketenagakerjaan di Jawa Tengah pada triwulan II 2020 merasakan dampak wabah COVID-19. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia, kondisi ketenagakerjaan di Jawa Tengah pada triwulan II 2020 menurun drastis, yang ditunjukkan indeks ketersediaan lapangan kerja menurun dari 116,83 menjadi 38,84. Hal ini juga disertai penurunan penghasilan dimana indeks penghasilan saat ini menurun dari 126,82 menjadi 69,67 pada triwulan II 2020. Penurunan permintaan di tingkat domestik dan global membuat aktivitas produksi melemah. Sehingga beberapa pelaku usaha terpaksa mengurangi jumlah tenaga kerja untuk menjaga kondisi keuangan perusahaan.

Kondisi ketenagakerjaan di Jawa Tengah yang melemah digambarkan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia. Pada triwulan III 2020 indeks ketersediaan lapangan kerja menurun dari 38,84 menjadi 31,77. Hal ini juga disertai penurunan penghasilan dimana indeks penghasilan saat ini menurun dari 69,67 menjadi 64,16 pada triwulan III 2020. Penurunan permintaan di tingkat domestik dan global membuat aktivitas produksi melemah. Sehingga beberapa pelaku usaha terpaksa mengurangi jumlah tenaga kerja untuk menjaga kondisi keuangan perusahaan.

Nilai Tukar Petani (NTP) yang menggambarkan kemampuan daya beli masyarakat sektor pertanian, pada September 2020 mengalami perbaikan dibandingkan Juni 2020. NTP pada September 2020 tercatat sebesar 101,82, meningkat dari Juni 2020 sebesar 101,10. Jika melihat historis dalam dalam rentang waktu 2016 hingga 2019, NTP Jawa Tengah berada dalam tren yang meningkat. Peningkatan NTP terutama didorong peningkatan penghasilan yang diterima petani diiringi penurunan biaya yang dibayar petani pada September 2020. Penurunan biaya hidup terjadi tercermin dari inflasi perdesaan yang menurun pada September 2020 yang tercatat sebesar -0,10% (mtm). Penurunan harga terjadi pada komoditas makanan, minuman, & tembakau, dan informasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

Prospek Perekonomian Daerah

Pemulihan ekonomi Jawa Tengah diprakirakan berlanjut pada triwulan I 2021. Ditinjau dari sisi pengeluaran, peningkatan pertumbuhan pada triwulan I 2021 terutama didorong oleh peningkatan investasi dan ekspor luar negeri. Prospek relokasi pabrik dari beberapa kawasan di Asia ke Jawa Tengah, diperkirakan akan terealisasi pada periode ini. Selain itu, pembangunan proyek strategis nasional akan semakin intens dilakukan di awal tahun 2021. Ekspor luar negeri akan semakin meningkat seiring permintaan global yang semakin baik. Sementara pada sisi lapangan usaha, peningkatan diperkirakan terjadi pada lapangan usaha industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor.

Secara keseluruhan, perekonomian Provinsi Jawa Tengah pada 2021 diperkirakan akan lebih baik dibanding 2020. Perbaikan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah diperkirakan berlanjut. Peningkatan tersebut didorong oleh membaiknya perekonomian global serta akselerasi realisasi anggaran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, kemajuan dalam program restrukturisasi kredit, serta berlanjutnya stimulus moneter Bank Indonesia. Dari sisi mobilitas, perkembangan terakhir menunjukkan mobilitas masyarakat Jawa Tengah telah kembali normal terutama pada groceries.