Kehadiran Fintech Permudah Anak Muda Berinvestasi Di Pasar Modal

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat investor milenial atau usia di bawah 30 tahun sepanjang 2018 tumbuh 11%.

 

Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi mengatakan, peningkatan tersebut sekaligus didukung perkembangan teknologi. "Yang menarik, investor usia muda semakin banyak, kalau tahun lalu sekitar 28% tahun ini 39%," kata Friderica, Kamis (27/12).

 

Dalam laporan pencapaian 2018 KSEI disebutkan, demografi investor individu didominasi kaum milenial sebanyak 39,72%, diikuti investor berusia 31 tahun-40 tahun sebesar 25,34%, usia 41 tahun-50 tahun sebanyak 18,69%, usia 51 tahun-60 tahun dan terendah adalah investor dengan usia di atas 60 tahun sebanyak 5,56%. Sementara, berdasarkan jenis kelamin, terbanyak masih dari pria yakni 59,13%, sedangkan wanita 40,87%. Di mana, mayoritas investor atau 58,34% memiliki penghasilan berkisar Rp 10 juta-Rp 100 juta, dengan kategori pekerjaan sebagian besar atau 58,27% adalah pegawai (swasta, pegawai negeri dan guru). "Peningkatan jumlah investor itu, merupakan akumulasi kerja keras semua pihak dalam menggaet investor muda," ungkapnya.

 

Hingga Rabu (26/12) KSEI mencatat jumlah investor Single Investor Identification (SID) tumbuh 44% menjadi 1.613.165 SID. Jumlah tersebut merupakan jumlah Single Investor Identification (SID) terkonsolidasi dari investor saham, surat utang, reksadana, Surat Berharga Negara (SBSN) dan Efek lain yang tercatat di KSEI.

 

Komposisinya, sebanyak 851.662 SID memiliki aset saham, 988.946 SID memiliki aset reksadana dan 195.119 SID memiliki aset surat berharga negara. Adapun total aset yang tercatat di C-BEST per 26 Desember 2018 didominasi kepemilikannya oleh investor lokal sebesar 54,71%. Persentase tersebut meningkat dari tahun sebelumnya (per Desember 2017) di mana kepemilikan lokal mencapai 54,50%.

 

"Kenapa jumlah SID bisa 1,61 juta atau naik 44%, dan 39% adalah usia milenial, karena teknologi terus berkembang. Kalau dulu orang harus telepon broker, sekarang bisa jual beli saham hanya dengan handphone," ujarnya.

 

Selain itu, Friderica menilai kehadiranfintechturut berkontribusi dalam memudahkan investor untuk membeli reksadana. Ditambah lagi, hasil sosialisasi regulator dari kampus ke kampus, ditunjukkan dari hadirnya 300 galeri investasi di Tanah Air hingga tahun ini.

 

Untuk tahun depan, KSEI menyiapkan berbagai upaya demi bisa kembali menggaet pertumbuhan SID sebanyak 40%. Di antaranya dengan menerapkan simplifikasi pembukaan rekening efek yang bisa dilakukan secara online, sosialisasi akses new generationagar bisa memberikan informasi lebih banyak ke investor.

 

KSEI juga akan melakukan studi untuk full dematerialisasi atau perdagangan tanpa warkat. Dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 6.900 triliun dan sebanyak 4.100 triliun tersimpan di KSEI, maka sedang diupayakan cara untuk meningkatkan saham yang disimpan di KSEI. Diikuti upaya mempermudah proses key way see di pasar modal, demi membantu pelaku pasar.

 

"Harapannya, bisa menggaet mereka yang sudah menjadi investor maupun yang belum menjadi investor," tandasnya.(Kontan)

 


Editor: Catur waskito Edy