Kanada Tawarkan Investasi Pendidikan Untuk Jateng

Oleh : Suyono Sugondo

Jogjainside.com, Semarang — Sejumlah investasi ditawarkan untuk Jawa Tengah. Di antaranya Pendidikan, energi dan engineering.

“Di sektor pembangunan sumber daya manusia. Kanada tertarik untuk investasi pendidikan di Jawa Tengah. Barangkali kerjasama sektor pendidikan dengan Kanada akan jauh lebih baik,” kata Ganjar, Selasa (6/8/2019).

Tawaran tersebut disampaikan langsung oleh Duta Besar Kanada untuk Indonesia Peter MacArthur saat berkunjung ke ruang kerja Gubernur Jawa Tengah di Semarang.

Ganjar mengatakan saat ini kemitraan pengembangan sumberdaya manusia lewat dunia pendidikan telah dilakukan Jawa Tengah dengan menggandeng Jerman, Jepang dan Australia.

“Karena itu sesuai dengan arahan Presiden. SMK kita saat ini telah bekerja sama dengan Jerman, Jepang dan Australia,” katanya.

Untuk urusan investasi, Kanada memang bukan termasuk negara papan atas yang menanamkan modalnya di Jawa Tengah. Kanada masih jauh di bawah Jepang, Korsel, Singapura, British Virgin Island dan Malaysia.

Ganjar menjelaskan, pertumbuhan investasi di Jateng setiap tahun tumbuh 51 persen. Pada tahun 2018 capaian investasi di Jateng sebesar 59,27 dari tadget 47,15. Tahun 2017, target 41,7 dan capaiannya 51,54. Pada tahun 2016, targetnya 27,55  sementara capaiannya sebesar 38,18.

“Perkembangan Realisasi investasi, listrik gas air adalah yang terbesar. Kami cukup serius membangun infrastruktur di Jawa Tengah, bandara, pelabuhan. Padatnya DKI, Jabar dan Jatim membuat Jateng sangat potensial. Itulah kenapa banyak calon investor yang datang ke Jateng,” katanya.

Peter MacArthur mengatakan untuk upgrading sumberdaya manusia sektor paling inti memang dunia pendidikan. “Sesuai mandat presiden, soal pengembangan sumberdaya manusia, Kanada turut ambil bagian,” katanya. Terlebih, lanjut Peter, saat ini Kanada telah memiliki jalinan dengan 34 sekolah menengah kejuruan di seluruh Indonesia. Tiga di antaranya berada di Jawa Tengah.

Melihat fokus program pemerintah saat ini, baginya sangat memungkinkan untuk menambah jumlah lembaga pendidikan yang diajak kerjasama. “Semoga bisa kerjasama dengan mengangkat potensi masing-masing. Sebenarnya hampir sama, antara Kanada dan Jawa Tengah, potensinya sangat besar,” kata Peter. (sug)

Cerita Menarik di Balik Festival Indonesia di Rusia

 

 
  Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyerahkan becak kepada Penasihat Museum Ketimuran Rusia di Moskow, saat berlangsungnya Festival Indonesia di Moskow, Jumat (2/8 /2019)


Minggu, 4 Agustus 2019

 

 

KOMPAS.com - Ribuan orang warga Rusia sudah berbondong-bondong mendatangi Festival Indonesia Ke-4 pada sejak Jumat (2/8/2019) siang, sebelum acara dibuka resmi. Event ini digelar di taman Krasnaya Presnya di jantung kota Moskow, Rusia. Taman Krasnaya Presnya seluas 16,5 ha ini didirikan tahun 1932. Taman ini merupakan monumen sejarah dan arsitektur, serta monumen seni lanskap abad XVIII-XIX. Festival Indonesia resmi dibuka pada Jumat sore pukul 18.00 waktu setempat atau pukul 22.00 WIB.

Peserta festival berasal dari usaha kecil dan menengah Indonesia, termasuk perusahaan-perusahaan besar Indonesia yang sudah ekspor. Pameran FIM diramaikan hampir 200 anjungan dengan 1.200 peserta dari berbagai kalangan dari Indonesia. Festival tersebut menampilkan berbagai kesenian dan budaya dari berbagai daerah Indonesia. Beberapa workshop digelar di area ini, di antaranya gamelan, wayang kulit, tari, dan membatik. Ada pula fashion show dan barista kopi Indonesia.

Dengan tema “Visit Wonderful Indonesia: Enjoy Your Tropical Paradise”, FIM menargetkan dikunjungi oleh sekitar 140.000 orang warga Rusia

Berikut cerita menarik di balik Festival Indonesia di Moskow:

  • Produk biskuit asal Semarang laris di Rusia

Ganjar Pranowo di Festival Indonesia Moscow (FIM) 2019, Rusia.

Fine Choice yang merupakan produk biskuit asal Kabupaten Semarang laris manis diserbu warga Rusia di Festival Indonesia Moscow (FIM) 2019, Rusia.

Saking larisnya, saat itu juga biskuit tersebut langsung dipesan sebanyak tiga container atau dengan nilai order sebesar Rp1,5 miliar. ”Kami dapat order tiga kontainer dengan nilai per kontainernya Rp500 juta, buyer kami ingin memasarkan di supermarket di Rusia," kata Irawati Lukito Direktur Marketing PT. Choice Plus Makmur.

Hal tersebut wajar sebab biskuit Fine Choice tidak ditemukan di toko atau minimarket mana pun di Indonesia. Selama ini biskuit itu hanya diekspor ke luar negeri dan dijual online melalui ecommerce.

Tak hanya biskuit, produk asal Jawa Tengah (Jateng) lainnya juga dipamerkan di FIM IV. Contohnya kain batik dan lurik, bulu mata, gula merah, aneka kripik buah, jelly, kerajinan kayu dan tas, serta kopi.

  • Tawarkan wisata unggulan Borobudur hingga Sangiran

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menghadiri Indonesia-Rusia Business Forum yang digelar di Hotel Ritz Carlton, Moscow, Kamis (1/8/2019).

Selain produk, Jawa Tengah juga mempromosikan pariwisata.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang menjadi delegasi saat itu menawarkan destinasi wisata unggulan, seperti Borobudur, Sangiran, Dieng, dan Karimunjawa. Ganjar mengatakan, selama ini jumlah wisatawan Rusia ke Jateng memang sudah menunjukkan kenaikan, meski belum signifikan. Turis Rusia yang datang ke Borobudur misalnya, tahun 2016 sebanyak 3.149, tahun 2017 sebesar 4.209 dan pada 2018 mecapai 4.428.

”Dengan festival ini saya berharap akan banyak wisatawan Rusia yang berkunjung menikmati indahnya Jateng serta hubungan dagang. Investasi Jateng dan Rusia pun akan semakin bertambah erat dan meng-untungkan kedua belah pihak," kata pria berambut putih itu.

  • Promosikan dua negara, Rusia dan Indonesia

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyerahkan becak kepada Penasihat Museum Ketimuran Rusia di Moskow, saat berlangsungnya Festival Indonesia di Moskow, Jumat (2/8 /2019)

Duta Besar RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M Wahid Supriyadi, mengatakan, festival ini merupakan ajang promosi perdagangan, investasi, pariwisata, dan seni budaya terpadu.

"Festival ini mempromosikan dua negara, Indonesia di Rusia dan Rusia di Indonesia," katanya.

Dampak positif hubungan baik dengan Rusia bisa dilihat dari jumlah wisatawan Rusia ke Indonesia yang semakin meningkat. "Tahun 2016 ada 68.000 wisatawan, tahun 2018 naik menjadi 125.000 wisatawan Rusia," kata Wahid. Sebaliknya, kunjungan wisatawan Indonesia ke Rusia juga terus meningkat. "Data dari kementerian pariwisata Rusia yang didapat KBRI menyebutkan, tahun 2016 ada 5.000 wisatawan, tahun 2018 meningkat menjadi 31.000 wisatawan Indonesia ke Rusia," kata Wahid.